Aku yang menjadi
2 Februari 2026
Tepat pada jam 12 malam, Tepat pada malam Nifsu Sya'ban, setelah ratusan purnama aku memohon petunjuk-Nya, akhirnya Dia memberikan Aku apa yang aku butuhkan; Keberanian.
Aku memberanikan diri untuk memilih diri ku. Aku akhirnya memiliki keberanian untuk memilih apa yang kurasa baik untukku, walau belum hadir didepan mata rupanya, namun Ia hadir, dalam kepala, dalam doa, serta dalam harapan.
Aku melompat kedalam kebebasan yang selalu aku dambakan. Aku menelusuri gelap dan terang yang aku nantikan. Aku menyakiti ia yang tulus dan mencintai apa adanya. Aku merelakan ekspektasi yang membelenggu apa yang ada dalam jiwa dan raga. Aku melepas angan dan fantasi kosong yang dilandasi oleh ketakutan belaka. Aku memaafkan diri yang sempat menjadi racun untuk dia dan sekitarnya. Aku membiarkan Tuhan dan Semesta bekerja sebagaimana mestinya, menentukan arah hidup ku di depan sana, membimbing langkahku senantiasa, dan selalu.
Tidak ada rumus pasti akan bagaimana cara nya aku dapat melewati fase ini, fase setengah jalan menuju kehidupan yang ku nanti, menuju diri yang menanti, selain terus melangkah dan berjalan. Melangkah dan berjalan juga butuh pembelajaran, juga butuh kemawasan. Maka itu yang akan ku lakukan. Aku akan terus berjalan, Aku akan terus melangkah, walau dalam keadaan yang sulit, jiwa yang sedang sakit, serta hati yang penuh dengan kekosongan. Langkah ku terasa berat, dadaku terasa marah, diriku dipenuhi oleh segala emosi yang dapat dan tidak dapat terucap bentuknya.
Aku akan terus berjalan dan melangkah, membersamai pembelajaran yang menemani, membersamai perubahan yang akan terjadi.
Tidak mudah. Tidak pernah mudah ketika perpisahan melipir dalam setiap episode hidup seseorang. Namun jika ini adalah harga yang harus kubayar untuk bisa mendapatkan apa yang aku pantas miliki, maka biarlah.
Aku izinkan diri ku tuk berduka. Aku izinkan diri ku melalui rasa kekosongan hingga akhirnya dapat aku isi sedikit demi sedikit dengan cinta yang selalu berhasil aku berikan kepada mereka yang belum tentu berkemampuan untuk menerimanya. Aku izinkan diri ku merasakan amarah, menatap kekecewaan, berdiri dalam kesedihan, terus melangkah dalam kesepian, dan terus berusaha walau dalam kebingungan.
Hanya keyakinan yang dapat membuat ku bernafas sekarang. Hanya keyakinan yang dapat membuat ku mereda dalam lebat nya hujan hari ini. Hanya keyakinan yang dapat membuat ku masih tersenyum di sela air mata yang tak terbendung ini. Aku percaya, Aku yakin, Aku akan mendapatkan apa yang memang untukku. Karna jika memang hal-hal yang aku inginkan melewatiku, maka itu bukan untukku.
Komentar
Posting Komentar