Postingan

Aku lepaskan

19 Februari 2026, Kuala Lumpur, Malaysia Bahkan setelah ribuan kilometer aku menempuh ruang dan waktu tuk memberi jeda pada diriku. Aku menemukan diri ku sempat berlari ke arahnya, kepada pikiran ku sendiri yang padahal menjadi alasan aku melangkah sejauh ini.  Aku larut dalamnya. Aku membiarkan diriku tenggelam pada nestapa yang ku buat sendiri. Api yang kuredam selama hampir setahun lamanya, tlah berhasil ia beri setetes dua tetes minyak tanah hingga akhirnya tak berhasil tuk terbendung. Apa yang ku lindungi dari panas nya bara dan api tlah gagal ku selamatkan.  Dua hari yang lalu. Aku meninggalkan sebuah bangunan yang membara. Aku menghancurkan puing-puing yang tlah terbakar hangus tak beraturan. Aku pergi membawa luka terbakar yang begitu panas membuat luka nya bahkan terus gatal dan masih berdarah.  Mengubur diri kini bukanlah sebuah pilihan. Cepat atau lambat, aku akan dihadapkan oleh sebuah pilihan. Pilihan untuk terus melangkah dengan luka yang masih begitu hangat...

Aku yang menjadi

 2 Februari 2026 Tepat pada jam 12 malam, Tepat pada malam Nifsu Sya'ban, setelah ratusan purnama aku memohon petunjuk-Nya, akhirnya Dia memberikan Aku apa yang aku butuhkan; Keberanian. Aku memberanikan diri untuk memilih diri ku. Aku akhirnya memiliki keberanian untuk memilih apa yang kurasa baik untukku, walau belum hadir didepan mata rupanya, namun Ia hadir, dalam kepala, dalam doa, serta dalam harapan. Aku melompat kedalam kebebasan yang selalu aku dambakan. Aku menelusuri gelap dan terang yang aku nantikan. Aku menyakiti ia yang tulus dan mencintai apa adanya. Aku merelakan ekspektasi yang membelenggu apa yang ada dalam jiwa dan raga. Aku melepas angan dan fantasi kosong yang dilandasi oleh ketakutan belaka. Aku memaafkan diri yang sempat menjadi racun untuk dia dan sekitarnya. Aku membiarkan Tuhan dan Semesta bekerja sebagaimana mestinya, menentukan arah hidup ku di depan sana, membimbing langkahku senantiasa, dan selalu. Tidak ada rumus pasti akan bagaimana cara nya aku dap...

04/08/1999 - 04/08/2025

As I stumbled to my journey, I sighed. The memories then came flooding in — softly and loudly. The memories of who I am. The people who stayed. The people who left. Those filled with joy still make me smile, even today—no matter what has changed. Those filled with pain still haunt me sometimes, vividly—no matter what has changed. The struggles I've outgrown still make me proud of who I am, even now—no matter how much the current struggles have multiplied. The glory and the failure. The warmth and the ache.  The kindness and the cruelty. From me. To me. Through me. From them. By them. Despite them. What I gave. What I took. What they left. What I held. I cherish them all: The storms and the calm. The rage and the release. The echo and the hush. The loops that repeat — The chains I’ve stopped resisting.  I cherish them all — I embrace them. I accept them. I forgive them. I let go. I surrender. I love.

Happy Birthday, Love 04/08/2025

Y ou’re still here. not because it’s easy. not because you always wanted to be. but because you chose to stay — again and again — even when the reasons felt blurry. even when no one was watching. this isn't about celebrations. no candles. no confetti. just a quiet nod between you and the mirror. a kind of peace that doesn't need an audience. you’ve grown in silence, in solitude, in the moments no one asked about. and somehow — that became your strength. whatever comes next, you’ll meet it as you always do: with your own rhythm. your own rules. and the fire they never saw coming.

Tawa ku yang Letih, Berbicara

Tawa ku letih, Tawa ku lelah. Ia berteriak tersedu-sedu rintih karna harus selalu menjadi garda terdepan dalam setiap peperangan,  ketika tawa ingin duduk sejenak ia dipaksa untuk keluar. Ia dipaksa untuk bekerja, ia dipaksa untuk melawan. Melawan pilu nya hidup, bekerja demi menghidupi lilin yang sudah hampir habis terbakar.  Tawa ku tak tahu menahu apa penyebabnya, kenapa harus aku yang melewatinya, bagaimana cara menghadapinya, kapan bertemu dengan jawabannya, tawa ku babak belur mati-matian senantiasa menemani diriku dalam sendu dan sakit. Tawa ku sudah hampir kehilangan makna dan moralitas dalam benar-benar mengetahui mana yang patut untuk disalami dan mana yang sebenarnya tak patut untuk dihampiri. Tawa ku bingung dan heran, dalam diam dia ingin sebuah kebenaran. "Mana yang harus kupercaya sekarang?", Tawa ku mulai gelisah kenapa terus-terusan dia yang harus berkelana dan berekenalan dengan banyak perkiraan. "Dimanakan amarah itu?" , "dimanakah air mata i...

Barasuara – Terbuang Dalam Waktu

Gejolak bara yang kurasa semakin menyala, dalam remangnya lampu di cafe sudut tempat biasa kamu singgah, aku berteriak berharap tidak berpapasan dengan hanyutnya matamu yang membutakan. Namun, leher tak kunjung berhenti melihat setiap sedikit pergerakan yang terjadi di garda terdepan tempat mungil ini. Apa yang kurasakan sesungguhnya tak bisa ku urai dalam kata dan kalimat yang pasti. Hangat mu membawa angin rindu yang menusuk namun membusuk. Dimana dirimu malam ini? Perempuan beruntung nan bodoh mana yang menemanimu hari ini?  Pilu yang kamu rasa, ku coba balut dengan tawa dan riang nya diri ku. Namun pedih yang kurasakan saat ini, membuatmu membagikan tawa riang mu dengan mereka, dengan dia. Kemana perginya kamu saat aku membutuhkan kamu? Aku membutuhkan sosok mu untuk melerai lara yang kurasakan saat ini, mengurai gundah gelisah yang selalu bisa kau buat ringkas. Kejahatan yang telah kau bendung bersamaku, dapat kau ubah menjadi sebuah omong kosong dan makna tak berarti, Hebat y...

Sengsara adalah kamu

Bara yang kamu bawa, ternyata hanya bara kosong yang mengimitasi bara yang menyala di luar sana Menggebu kamu berteriak seolah kamulah yang paling sengsara padahal sengsara adalah kamu Menebar luka dan membalutnya dengan diam dan hilang, seperti biasa Sadarkah kamu, bahwa kehampaan yang kamu rasakan itu menular? Kekosongan dan kesedihan kamu sudah menjadi beban bagi mereka yang mendekat Hina diri mu, maki diri mu, dan kasihani diri mu terus menerus! Ayo, tangisi diri mu! Kamu bakar cahaya demi cahaya yang menerangi pandangan gelap mu Manusia penuh dusta dan omong kosong, nyaring bunyinya, dangkal. Pengecut! Bodohnya mereka membiarkan pecundang sepertimu membakar habis lilin terakhirnya Beruntungnya mereka yang bisa memberikan mu sedikit rasa pedih dan membuang mu dengan nyata Kamu, adalah kesalahan terbesar yang ada dalam diriku Kesengsaraan adalah bahasa kasih darimu Kepedihan adalah bentuk peduli bagimu Kebodohan adalah kelebihanmu Empati adalah hal yang tidak akan pernah ada pada di...